http://www.schnaapklicks.com/?ref=cacoel06

Jumat, 22 Oktober 2010

askep pioderma

TINJAUAN TEORI

A.  Definisi
Pyoderma adalah infeksi kulit akibat bakteri. Infeksi kulit terjadi saat integritas permukaan kulit telah rusak. Kulit mengalami maserasi akibat pemaparan kronis dari tempat yang lembab, kemudian flora bakteri kulit berubah, sirkulasi di kulit rusak, dan terjadi kerusakan terhadap kekebalan.

B.   Etiologi
Penyebab yang utama ialah Staphylococcus aureus dan Staphylococcus B hemolitikus.

Faktor Predisposisi 
  1. Higiene yang kurangMenurunnya daya tahan tubuh. Misalnya: kekurangan gizi, anemia, penyakit kronik, neoplasma ganas, diabetes mellitus
  2. Telah ada penyakit lain di kulit. Karena terjadi kerusakan di epidermis, maka fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

C.   Klasifikasi
1.     Pioderma Primer
Infeksi terjadi pada kulit yang normal. Gambaran klinisnya tertentu, penyebabnya biasanya satu macam mikroorganisme.
P        Pioderma Sekunder.
Pada kulit telah ada penyakit kulit yang lain. Gambaran klinisnya tak khas dan mengikuti penyakit yang telah ada. Jika penyakit kulit disertai pioderma sekunder disebut impetigenisata, contohnya: dermatitis impetigenisata, scabies impetigenisata. Tanda impetigenisata ialah jika terdapat pus, kustul, bula purulen, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional, leukositosis, dapat pula disertai demam.
D.  Bentuk Pioderma
  1.      Impetigo 
Impetigo ialah pioderma superfisialis ( terbatas pada epidermis ). Terdapat 2 bentuk ialah impetigo krustosa dan impetigo bulosa.
Folikulitis
Merupakan radang folikel rambut yang biasanya disebabkan Staphylococcus aureus. 
Furunkel/Karbunkel
Merupakan radang folikel rambut dan sekitarnya. Jika lebih dari pada sebuah disebut Furunkulosis, Karbunkel merupakan kumpulan Furunkel. Biasanya disebabkan oleh Stapyhlococcus aureus, keluhan biasanya nyeri.
4.     Ektima
Ektima ialah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya disebabkan infeksi oleh Streptococcus.
5.      Pionika
Radang disekitar kuku oleh piokokus, disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan streptococcus B hemolyticus, biasanya didahului dengan trauma atau infeksi.
6.     Erisipelas
Ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh Streptococcus, gejala utamanya ialah eritema berwarna merah cerah, biasanya disebabkan oleh Streptococcus B hemolyticus.
7.     Selulitis
Etiologi, gejala konstitusi, tempat predileksi, kelainan pemeriksaan laboratoriksama dengan erisipelas. Kelainan kulit berupa infiltrate yang difus di subkutan dengan tanda-tanda radang akut.
8.     Flegmon
Merupakan selulitisyang mengalami supurasi. Terapinya sama dengan selulitis hanya ditambah insisi.
9.     Ulkus Piogenik
Berbentuk ulkus yang gambaran klinisnya tidak khas disertai pus di atasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman negative-Gram, oleh karena itu perlu dilakukan kultur.

E.   Patofisiologi
Bakteri masuk kedalam folikel rambut sehingga menimbulkan folikulitis yang tampak sebagai nodus kemerahan dan sangat nyeri, pada keadaan yang berat dapat disertai demam, malaise, mual dan muntah. Setelah dua sampai empat hari terjadi proses supurasi dan terbentuk abses yang dapat diketahui dengan terjadinya fluktuasi, ada bagian tengah lesi terdapat bintik kekuningan yang merupakan jaringan nikrotik yang disebut mata bisul (core).
Bila penyebaran bakteri lebih dalam atau lebih luas terjadi selulitis. Pada pasien Diabetes militus furunkel sering kambuh terutama dengan hygiene yang jelek.

F.    Manifestasi Klinis
1.      Benjolan merah di kulit yang membesar dan menjadi bernanah setelah beberapa hari, dan akan pecah dengan sendirinya
2.      Nyeri, berdenyut-denyut
3.      Demam / Panas
4.      Adanya Nodul
5.      Mual, Muntah
6.      Krusta
7.      Gatal-gatal
8.      Radang
9.      Papul dan Prustul
  
G.  Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorik (darah tepi) terdapat leukositosis. Pada kasus yang kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada kemungkinanpenyebabnya bukan stafilokokus melainkan kuman negative-Gram. Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, invivo tidak selalu sesuai dengan in vitro.

H.  Penatalaksanaan
1.     Obat Oral
Antibiotika yang lazim digunakan untuk Pioderma, antara lain:
a.       Ampisilin, diminum 4 x 500 mg ( 1 jam sebelum makan ) hingga sembuh.
b.      Amoksisilin, diminum 3 atau 4 x 500 mg sesudah makan.
c.       Eritromisin, diminum 3 atau 4 x 500 mg sesudah makan. Obat ini kadang menimbulkan rasa mual dan rasa tidak nyaman di lambung.
d.      Sefalosporin. Obat golongan ini terdiri dari 4 generasi, dan efektif untuk kuman Gram Positif. Dosis obat bergantung pada masing-masing jenis dan generasi. Generasi I sefalosporin yang kerap digunakan adalah Cefadroxyl.
e.       Klindamisin, diminum 4 x 150 mg sehari. Pada Pioderma yang berat, dosisnya dapat ditingkatkan 4 x 300 mg hingga 4 x 450 mg.
2.     Obat Topikal
Obat Antibiotika Topikal yang sering digunakan pada Pioderma, antara lain: Basitrasin, Neomisin, Mupirosin, dan lain-lain.
Lamanya penggunaan obat bergantung pada jenis dan beratnya Pioderma. Rata-rata berkisar 7-10 hari, kecuali pada Pioderma yang berat dan luas, misalnya Multipel Abses dimana pengobatannya dapat berlangsung hingga beberapa minggu.
Selain itu, dapat juga digunakan kompres Yodium Povidon ( misalnya: Bethadine, Septadine ) sebagai antiseptik dan perawatan Pioderma.
Adapun obat simptomatis ( meredakan keluhan ) dapat digunakan sesuai dengan keluhan yang menyertai Pioderma, misalnya: pereda demam dan pereda nyeri (antipiretik-analgesik), pereda gatal (antihistamin).

TINJAUAN ASKEP

A.  Pengkajian
1.     Data subyektif :
Pasien mengeluh nyeri, badan terasa panas, mual muntah, gatal-gatal pada kulit, terdapat luka pada kulit, tidak bisa tidur/kurang tidur, malu dengan kondisi sakitnya, dan mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya.
2.     Data obyektif :
Suhu tubuh meningkat melebihi 38 derajat celcius, ekspresi wajah meeringis, menggaruk-garuk di kulit, gelisah tidak bias tidur, menutup diri/menarik diri, porsi makan tidak dihabiskan, kulit tampak lecet/luka, mual-muntah, pasien bertanya tentang penyakitnya

B.   Diagnosa Keperawatan
1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit
2.      Nyeri akut/kronis berhubungan dengan lesi kulit
3.      Perubahan pola tidur berhubungan dengan pruritus
4.      Perubahan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik
5.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan kulit dan cara menangani kelainan kulit
6.      Resiko penyebaran  infeksi berhubungan dengan infeksi virus
7.      Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
8.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
9.      Ancietas berhubungan dengan adanya pustul pada kulit.

C.   Rencana Keperawatan
1.     Prioritas Keperawatan
a.          Dx1. Nyeri
b.         Dx 2. Kerusakan integritas kulit
c.          Dx 3. Hipertermi
d.         Dx 4. Perubahan pola tidur
e.          Dx 5. Perubahan nutrisi
f.          Dx 6. Perubahan citra tubuh
g.         Dx 7. Ancietas
h.         Dx 8. Kurang pengetahuan
i.           Dx 9. Resiko penyebaran infeksi
2.     Rencana Keperawatan
a.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit
Hasil yang diharapkan : pasien dapat mempertahankan integritas kulit
Rencana tindakan keperawatan
1)      Kaji/catat ukuran atau warna, kedalaman luka dan kondisi sekitar luka
R/ Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan dan petunjuk tentang sirkulasi
2)      Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan kulit dengan cara mandi sehari 2 kali
R/ Menjaga kebersihan kulit dan mencegah komplikasi
3)      Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi
R/ Maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit dan perluasan kelainan primer
4)      Beri nasehat kepada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan pengolesan cream atau lotion
R/ Pioderma memerlukan air agar fleksibelitas kulit tetap terjaga. Pengolesan cream atau lotion untuk mencegah agar kulit tidak menjadi kasar, retak dan bersisik
5)      Kolaborasi dalam pemberian obat topical
R/ Mencegah atau mengontrol infeksi

b.      Nyeri akut/kronis berhubungan dengan lesi kulit
Hasil yang diharapkan : nyeri terkontrol/teratasi
Rencana tindakan keperawatan :
1)      Kaji skala nyeri
R/ Perubahan karakter, lokasi, intensitas nyeri dapt mengindikasikan komplikasi
2)      Dorong ekspresi, perasaan tentang nyeri
R/ Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan apat meningkatkan mekanisme koping
3)      Ajarkan teknik relaksasi, distraksi, massage, guiding imajenery
R/ Memfokuskan kembali pehatian, meningkatkan relaksasi dan meningkatkan rasa control yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis
4)      Berikan aktivitas terapeutik tepat sesuai dengan kondisi dan usia pasien
R/ Membantu mengurangi konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan kembali perhatian
5)      Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
R/ Perubahan metode untuk penghilangan nyeri

c.       Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
Hasil yang diharapkan : kebutuhan tidur pasien terpenuhi
Rencana tindakan :
1)      Kaji tingkat tidur pasien
R/ Untuk mengetahui kualitas tidur pasien
2)      Anjurkan pasien untuk menghindari minuman yang mengandung cafein menjelang tidur malam hari
R/ Cafein memiliki efek puncak 2-4 jam sesudah dikonsumsi
3)      Anjurkan pasien untuk melakukan gerak badan secara teratur
R/ Memberikan efek yang menguntungkan untuk tidur jika dilakukan pada sore hari
4)      Anjurkan melakukan hal-hal ritual rutin menjelang tidur
R/ Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan terjaga menjadi keadaan tidur
5)      Kolaborasi pemberian obat antihistamin
R/ Memberikan obat diharapkan pasien dapat tidur

d.      Perubahan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik
Hasil yang diharapkan : pengembangan peningkatan penerimaan diri
Rencana tindakan keperawatan :
1)      Berikan kesempatan untuk pengungkapan, dengarkan dengan cara terbuka dan tidak menghakimi untuk mengekspresikan perasaan.
R/ Pasien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami
2)      Bantu pasien yang cemas dalam mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali diri serta mengatasi masalah.
R/ Menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi
3)      Dorong pasien untuk bersosialisasi dengan orang lain dan Bantu pasien kearah penerimaan diri
R/ Membantu dalam meningkatkan sosialisasi dan penerimaan diri

e.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan kulit dan cara menangani kelainan kulit
Hasil yang diharapkan : pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya, pasien memahami tentang perawatan kulit
Rencana tindakan keperawatan :
1)      Kaji tingkat pengetahuan pasien
R/ Memberikan data dasar untuk mengetahi tingkat pemahaman pasien
2)      Jaga agar pasien mendapat informasi yang benar, memperbaiki kesalahan informasi
R/ Pasien memiliki perasaan ada sesuatu yang mereka perbuat dan merasakan manfaatnya
3)      Beri nasehat kepada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan pengolesan cream atau lotion
R/ Pioderma memerlukan air agar fleksibelitas kulit tetap terjaga. Pengolesan cream atau lotion untuk mencegah agar kulit tidak menjadi kasar, retak dan bersisik
4)      Peragakan penerapan terapi yang diprogramkan : obat topical
R/ Memungkinkan pasien untukmemperoleh kesempatan untuk menunjukkan cara yang tepat untuk melakukan terapi

f.       Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan infeksi virus
Hasil yang diharapkan : infeksi tidak terjadi
Rencana tindakan keperawatan :
1)      Berikan petunjuk yang jelas dan rinci kepada pasien mengenai program terapi
R/ Pemberian intruksi yang jelas diperkuat dengan instruksi tertulis
2)      Nasehati pasien untuk menghentikan pemakaian setiap obat kulit yang memperburuk masalah
R/ Reaksi alergi dapat terjadi akibat setiap unsur yang ada dalam obat tersebut
3)      Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi dokter
R/ Membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi
4)      Gunakan obat-obat topical yang mengandung koortikosteroid sesuai indikasi
R/ Kortikosteroid memiliki kerja anti inflamasi

g.      Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Hasil yang diharapkan : peningkatan suhu tubuh diatas rentang dermal
Rencana tindakan keperawatan :
1)      Pantau suhu pasien ( derajat dan pola )
R/ Suhu 38,9-41derajat C menunjukkan proses infeksius
2)      Berikan kompres hangat
R/ Membantu mengurangi demam
3)      Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ Membantu mengurangi demam
4)      Berikan antipiretik
R/ Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus

h.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Hasil yang diharapkan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Rencana tindakan keperawatan
1)      Kaji status nutrisi secara kontinu
R/ Memberikan pilihan intervensi
2)      Timbang berat badan setiap hari dan bandingkan dengan berat badan saat penerimaan
R/ Memantau kecenderungan dalam penurunan/penambahan berat badan
3)      Dokumentasikan pemasukan oral selama 24 jam
R/ Mengidentifikasi ketidakseimbangan antara perkiraan kebutuhan nutrisi dan masukan actual
4)      Rujuk pada ahli gizi
R/ Membantu dalam identifikasi defisit nutrisi

Dx9 Ansietas b/d adanya pustul pada kulit                                  
Hasil yang diharapkan : gelisah dan takut pasien berkurang.
Rencana tindakan keperawatan :       
1.      Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
      R/ : pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien
2.      Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan
ketakutannya
R/ : mengurangi kecemasan
3    Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik
R/ : memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat
4.      Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
R/ : dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan

Komentar :

ada 0 komentar ke “askep pioderma”

Poskan Komentar